Love#2

December 22, 2009

Aku bertanya,
Apakah cinta itu
Dia hanya tersenyum

Ujarku,
Cinta adalah kamu
Dan, aku mencintaimu

Cinta adalah kita,
sahutnya (dan dia menatapku)
Kamu dan aku

Sempurna.

—–

Haiku #2

December 6, 2009

| color of tonight | the monochromatic black | like a broken heart |

Haiku #1

December 6, 2009

| One christmas carol | I sing it for you, cherie | and new york city |

Selamat Hari Guru!

November 25, 2009

Aku tak habis pikir
Apa yang membuatmu bertahan
dengan kapur dan papan tulis
sementara kami tidak peduli

Aku tak habis pikir
Apa yang menjagamu dari kantuk
memeriksa hasil pekerjaan kami
sementara kami tidur atau bermain

Aku tak habis pikir
Apa yang membuatmu sabar
membimbing kami
sementara kami kadang lupa menghormati

Aku tak habis pikir
darimana datangnya kecintaanmu pada ilmu
darimana datangnya dedikasimu
untuk membaginya kepada kami

Aku tak pernah bisa habis pikir
Aku hanya bisa berterima kasih
dengan mengingat setiap wajahmu
each and everyone of you

I’ll remember you

Kepadamu, guru-guruku
Aku angkat topi
Kepada kalian lah
aku berhutang budi

Sampai mati.

(in random order)
Ibu Agatha, Ibu Een, Ibu Veronica (alm), Bapak Tarsisius (sekelas pernah digampar karena perang kapur), Bapak Linus, Bapak Frans, Bapak Ferry, Bapak Yakobus Sartam, Bapak Ignatius, Bapak Isidorus, Ibu Murni, Ibu Yustin, Bapak Antonius, Ibu Wid, Ibu Theresia, Pak Joko, Pak Harry (masih inget jenggotnya), Pak Pius Sairan (masih inget duduk dipisah dari Ikyan karena disangka pacaran), Ibu Birgitta (ngajar basa sunda—sampe skrg bahasa sunda g pas2an), Ibu Sri, Ibu Yetty, Suster Kris, Suster Marcellina, Ibu Darti, Bapak Tisna, Bapak Sutardjo, Bapak Yakobus Suparsa, Bapak Sidiq (maap pak, love to skip ur class because it was so boring), Bapak Heriawan (masih pake perfume U?), Bapak Jumadi (one hell of brain and attitude), Bapak Murtidjo, Bapak Trishadi (he speaks with moving his lips only), Ibu Lusi, Bapak Gunarto (fav. subject— kesenian), Bapak Iyus (fav. subject—history), Bapak Sudjijo (we share the same birthday date), Bapak Digdo, Bapak Harris (soloist gereja meski tidak ada bagian untuk solo di lagunya), Ibu Gabriella, Bapak Thomas (geografi g dapet A, horeee!), Bapak Sudjarwadi (fav. subject–seni rupa), Bapak Martono, Bapak Djatno (kinclong kepalanya masih inget), Bapak Kamdhi (guru sekolah minggu jg), Bapak Sumardi Ubi (guru favorit), Bapak Kim (alm), Bapak Karyanto (always remember me ya sir, gara2 lomba pidato), Bapak Agus, Bapak Sudibyo, Bapak Sis (alm), Bapak Djaffar, Bapak Endo (ulangan ga pernah dapet lebih dari 6), Bapak Kamal A. Arief (dosen wali, bekas boss), Bapak Purnama Salura (my mentor, a dear friend), Bapak Abang Winarwan (gantengnya kayak McGyver), Bapak Bachtiar Fauzy, Bapak Willy Sumamihardja, Bapak Sandi A. Siregar, Bapak Johannes Widodo (temen ngopi waktu masih jadi kajur), Bapak Alwin Sombu, Bapak Handoko, Ibu Janet Priatna, Ibu Ratna Djumiati, Ibu Rumiati R. Tobing (we bought the same bag at Sydney), Bapak Sudianto Aly (coffee companion and jazz music friend), Bapak Kiki (alm), Bapak Agan Hariman (alm—opa, kangen!), Bapak Saleh, Bapak Suluh Kumoro, Bapak Ukun (alm), Bapak Johan (galaknya masih inget sampe sekarang), Bapak Djauhari Sumintardja, Bapak Rudy (masih suka ketemu makan di cihapit), Ibu Sylvia Loman, Ibu Yasmin, Bapak Rudi Hadinata, Ibu Harastoeti Dibyo (ibu guruku modis sekali), Bapak Handoko, Bapak Sontani, Bapak Karta, Bapak Mauro P. Rahardjo, Ibu Mira, Ibu Amirani, Bapak Suhartono Susilo (alm), Bapak Iwan, Bapak Hilman, Ibu Mimi Purnama, Bapak Alex, Bapak Achyar, Bapak Herman P. Wilianto (spiritual teacher, new age friend), Bapak Bambang Bule, Bapak Teddy, Bapak Hindra Mulya, Bapak Arthur Purbojo, Ibu Elsje, Bapak AB Witono, Bapak Agus Purba, Ibu Triana, Ibu Catharina Tan, Ibu Miriam, Ibu Lily, Ibu Mulyamah (makasih bu, presentasi selalu dinilai A), Bapak Bayu, Bapak Pius, Bapak Wisnu, Bapak Dwipayana Saraswadi, Bapak Budiono, Ibu Elizabeth Manurung —dan semua guru, asisten, atau dosen, yang namanya terlupakan (tapi tidak wajahnya. Sumpah!)

Terima kasih, Bapak! Terima kasih, Ibu!

Selamat Hari Guru!

Love#1

November 23, 2009

“Meeting you was fate, becoming your friend was a choice, but falling in love with you was beyond my control.” (unknown)

“Love is when you shed a tear and still want him, it’s when he ignores you and you still love him, it’s when he loves another girl but you still smile and say I’m happy for you, when all you really do is cry.” (unknown)

“Love can sometimes be magic. But magic can sometimes… just be an illusion.” (Javan)

“The love that lasts the longest is the love that is never returned.” (William Somerset Maugham)

“You can shed tears that she is gone,
or you can smile because she has lived.
You can close your eyes and pray that she’ll come back,
or you can open your eyes and see all she’s left.
Your heart can be empty because you can’t see her,
or you can be full of the love you shared.
You can turn your back on tomorrow and live yesterday,
or you can be happy for tomorrow because of yesterday.
You can remember her only that she is gone,
or you can cherish her memory and let it live on.
You can cry and close your mind,
be empty and turn your back.
Or you can do what she’d want:
smile, open your eyes, love and go on.” (David Harkins)

Hmmm…

Make me all wonder, what is love, exactly???

Mungkin ada beberapa teman pernah ngalamin apa yg g lakuin beberapa waktu lalu. Berusaha menjadikan rasa sebagai logika. Seperti rumus kimia. Seperti akte perjanjian. Mungkin, ada yg berhasil. Mengapa tidak? Even love needs rules (that’s why they called it the game of love).

G harus akui, g emang ga bisa use my logic wisely, apalagi dalam urusan perasaan. Beberapa my failures in the past happened because of this. G emang lebih cenderung untuk follow my intuition. G terlalu percaya dengan “semua ada hikmahnya” atau “orang bisa berubah”. Akibatnya, I feel miserable so often. G banyak kecewa. Banyak waktu yg terbuang percuma dengan mourning all my loss. So many tears. Itu makanya g berusaha to make my heart goes along with the thinking. Tapi apa itu berhasil juga?

Ngga juga.

G adalah tipe orang yang menikmati sebuah proses, bukan tipe yang melihat hasil akhir. BTW, kl proses emang sudah salah, apakah hasil akhir akan benar? Mungkin. Several things applied. But not all. Mungkin ada yang salah dengan cara g mencoba memaksakan logika g masuk ke urusan rasa. Dan g takjub dengan hasil g memaksa rasa untuk berpikir.  Maybe I’ve done several things right. But not everything feels right. Yang jelas, g ga bahagia. I can’t use my heart to think. Kasian dia. Mana g tipe yang njelimet banget kl mikir. Risks, opportunity, traits, all. In details. Lucu jg. Kayak rencana bisnis aja—jangan sampai rugi! Apalagi bangkrut!

Hmmm…

“Hati memilih, bukan dipilih.”

Novel picisan yang g baca bilang begitu (hell, though it was so cheesy, I like the book very much :p ). It took me awhile to understand what is the meaning of it. Sekarang kyknya g mulai mengerti. Rasa ga bisa dipaksa, apalagi dipaksa dengan logika. Logika hanya menjaganya untuk tidak lupa diri. Supaya tidak melakukan hal-hal bodoh. Supaya tidak egois. Karena biasanya, jika kita feels comfortable with something, we didn’t want to let go. Sampai akhirnya semua dipaksakan. Sampai akhirnya yang merupakan perjalanan menyenangkan di awal menjadi membosankan. Terikat kebiasaan. Menjadi sebuah kewajiban. Jadi belenggu. Ngga bebas lagi.

Sementara, I believe that love should be kept free. Bebas lepas! Tanpa adanya jeruji. Tanpa adanya batas pikir. Karena semua itu bikin rasa jadi tumpul. Kehilangan arti. Kehilangan tenaga karena terlalu dibebani. Meski beresiko hilang. Kenapa jg harus disesali? Love is wonderful when it arrives at your door. So be it. Keep it beautiful. Meski beda bentuknya. But please, no more vain. Berbesar hati lah kalo memang saatnya rasa itu pergi. Susah? Jelas. Tapi bukan tidak mungkin. Seperti halnya rasa itu akan kembali. Dan mungkin, akan lebih baik!

Jadi?

Berjalan di bawah matahari pagi. Mensyukuri segala rasa dan asa. Kalo pun mendung, berteduh aja. Sambil tertawa. Boleh deh merenung. Tapi semangatnya: nanti jg kembali cerah. Nikmatin aja. Kopi kan lbh enak dinikmati pas hujan. Baca buku dan dengerin lagu jazz juga. Atau sekedar ngelamun di teras sambil mikir ujan2an enak jg (I actually did this—-ujan2an—so much fun!!!). Banyak hal untuk dinikmati (dan sedikit waktu). Tau-tau cuaca cerah lagi. And where do we go from here? Jalan-jalan? Siapa takut!!!! :)

Dan mendapati bahwa g ga akan jalan sendirian, that’s a very nice thought!
—–

PS: Love you, B.

Joyride

November 15, 2009

G pernah ngalamin travelling in pack sama orang yang (saat itu) paling menyebalkan sedunia. Mulai dari mengeluh soal jadwal pesawat delay, bosan, lapar, sampai bagasinya pun minta dibawain. It was supposed to be my holiday. It was supposed to be fun. But not anymore. G cuma pgn cepet sampe dan berharap semuanya cepet berakhir. Ocehan orang itu, dan tentunya… liburan g!

G jg pernah ngalamin betapa menyebalkan pergi terburu-buru. Apalagi kalo acaranya ga penting. Tapi g masih berharap the journey would be fun. Apanya yg fun, kalo sepanjang jalan dibawa ngebut. Boro-boro liat pemandangan. Badan sakit keguncang2 karena mobil terus2an disetir di bahu jalan. Ngobrol? Gila aja. Meleng dikit bisa2 celaka. Mending juga tidur. Ga mau liat, ga mau tau. Sambil doa moga2 cepet nyampe dan sukur kalo selamet!

Sekali waktu g pernah pergi tanpa tujuan. Ceritanya kehabisan ide mau pergi kemana, but the weather was too good to be missed. Jadilah pergi tanpa tujuan. Pake acara nyasar segala. Jalan mulus tau-tau berbatu. Tau-tau di depan terhampar pemandangan yang menakjubkan. Tau-tau jalan buntu. Tau-tau udah gelap. G cuma bisa ketawa. Pada akhirnya ga kemana-mana juga. Pulang2 dekil, capek. But I enjoy that day, it was all worth it.

Ada kalanya g merasa bahwa ada beberapa hal dalam perjalanan hidup g adalah hak g. Perjalanan g, ya tujuan g. Mending g atur sendiri. Mending sendirian. Tanpa perlu konsultasi. Apalagi ijin. This is my life! Tolong jangan ngomel. Apalagi ngatur. Mending ga usah deh. Bawain bagasi? Bawa aja sendiri!!!!

Ada kalanya g merasa terpojok untuk menentukan destinasi hanya karena sebuah keharusan, tanpa g dikasih kesempatan untuk melihat apakah g benar2 bersedia untuk menjalaninya. Dan g kadang merasa sedih, karena tanpa sadar I missed so many wonderful things and so many precious moments. Karena g lebih senang tutup mata. Yang penting sampe. And everybody happy. Beres!!!

Ada kalanya g merasa perlu untuk mengambil langkah karena g suka dan menikmatinya, meskipun ga tau langkah g akan kemana. Dengan segala resiko. Dengan segala semangat bahwa destinasi itu akan jelas. Yang penting menikmati segala sensasi dan rasa. Senang. Gembira. Takut. Deg-degan. Panik. Walaupun akhirnya berakhir. Walaupun harus mulai dari nol lagi. Meski sakit. G ga menyesal. Those days are the best ever!!!

…And I remember we were driving, driving in your car
Speed so fast I felt like I was drunk
City lights lay out before us
And your arm felt nice wrapped ’round my shoulder
And I had a feeling that I belonged
And I had a feeling I could be someone, be someone, be someone…
(Tracy Chapman – Fast Car)


*jadi mellow*—halah!!!!

Missing #1

November 14, 2009

a crowd and me
i feel lonely
comfort me

street lights and shadows
your silhouette
collide me

ghosts in the mirror
i’m scared of them
protect me

unspoken words
leftover food and ashtray
abandoned me

the curse and magic words
sparks and fireworks
release me

How do I love thee? Let me count the ways.
I love thee to the depth and breadth and height
My soul can reach, when feeling out of sight
For the ends of Being and ideal Grace.
I love thee to the level of everyday’s
Most quiet need, by sun and candle-light.
I love thee freely, as men strive for Right;
I love thee purely, as they turn from Praise.
I love thee with a passion put to use
In my old griefs, and with my childhood’s faith.
I love thee with a love I seemed to lose
With my lost saints, — I love thee with the breath,
Smiles, tears, of all my life! — and, if God choose,
I shall but love thee better after death.

(Elizabeth Barrett Browning)

——

*Cheers, mate! For the love we have, for the differences between, and so many uncanny resemblances we shared. Just a thought of you then everything would be okay. Though every second we’ve changed, thank goodness I always found you here. :)

Bohong!

November 10, 2009

Mau tau rasanya dibohongin?

Rasanya sih yang jelas: IT HURTS LIKE HELL!!!

I can’t help to think what is the reason to keep me away from the truth. I mean, come on!!! I am a big girl who can face the truth. Yes, the truth, mind you. The truth if it was told FROM THE FIRST PLACE. Karena saat itu g akan berusaha memaklumi dan mengerti. Melihat dari sudut pandang lain. Berusaha sabar dan ga emosi. Mungkin kenyataannya pahit dan bikin sedih. But again—that’s the truth!!! Maybe I’d curse or be angry. Maybe I’d cry. But that’s it! Life goes on!

But not when I knew the truth…belakangan!

My instant reaction is RAGE. Don’t you EVER DARE to telling me LIES! *kecuali yakin seyakin-yakinnya kalo ga akan ketauan boong—silakan aja sih :) *

G merasa dibodohi (well, kl sampe bisa tau dibohongin, artinya ga bodoh2 amat siy *menghibur diri* :p). G merasa bodoh (tentunya—*meskipun teteup menghibur diri ga bodoh2 amat* karena tau sebelum yang bersangkutan tau kalo bohongnya ketauan :p). But well, if I can wish, I prefer not to know it at all!

Kenapa g bisa tau? Well, mungkin sebagian orang ga nyadar bahwa your body is telling something when you lied. Not only from the eyes, body language, habits—even in the way you speak! I know something is wrong when I see wrong signals. Just a hint. Nothing much perhaps. Just a glitch. And I will know it. Soon. Then my mind will construct the whole story. And I can read. I will just need one mistake. Just one mistake!

A mistake! When the one who lied is the one who unconciously telling you that lie is what it was all about, how sweet is that? Ha! Sekarang, mungkin g bodoh—tapi siapa yang lebih bodoh???

A lie is a lie. No matter how much it is. Big or small. It stings. And it makes me mad.

Setelah puas menyumpah-serapah (dalam hati) dan memaki-maki (dalam hati juga), g cuma bisa tersenyum. Senyum? Yes, I am smiling!

But you won’t like it! Hihihihi….
—–

*Thanks to a dear friend of mine, P — for keep telling me “diantara yang tersurat, pasti ada yang tersirat”, and D, for her twit—entah kenapa hari itu I read ur twit :) .

Me Talk Pretty Today #1

November 3, 2009

(Ok, this is new for me. Mungkin ini curhat atau sekadar blabbering something yang ga penting. Udah berhari2 g resist to not doing so, but what the h*ck. You can’t blame a girl for trying kan?)

Udah seminggu lebih g berpikir kalo hidup g ini lucu. Sangat lucu malahan, sampe kadang g udah ga sanggup lagi ketawa. Capek. Kadang pengen menyerah (part of suicidal me). Belakangan ini, disaat semua orang lain tidur, g asik mikir (—sampe keterusan 3 hari ga tidur?). Mikir apa yang harus g lakuin dengan hidup g, apapun itu. Hidup g sempet g benci, seperti baca novel yang why-it’s-oh-so-boring.

Tapi hari ini, i think my life is so funny…

Pertama, g lagi mikirin ucapan orang tua g soal g dan adik2 g. G lagi kesel sama bokap karena dia ga bosen2nya gangguin g dengan topik yang sangat menakjubkan pas g lagi pusing. Btw, I am the first born child. Biasanya sih anak pertama lebih ngayom, lebih perhatian, lebih sabar, dan lebih-lebih lainnya. But not me. I don’t like those kinds of ‘lebih’ stuffs, g lebih cenderung cuek dan ngebiarin adik2 g gitu aja. Ya g pikir idup ya idup lu sendiri toh. Jangan ngarepin orang lain selalu bantu, dan bukan karena g ini ‘kakak’, g harus bantu. Ini jg yang bikin both of my parents ga bosen2nya selalu bilang “Bantu adik2 kamu, dong….kamu kan kakaknya!”. Geez, mom… i’m not gonna make their lives as mine. Not ever! Even if you were begging me to!

G pnya sindrom moodswing yang ‘terlalu’ hebat. Sehari bisa gonta-ganti mood puluhan kali, atau ya kalo lagi ‘sober‘, ga ganti untuk puluhan hari (cuma hari, ga sampe minggu atau taun). Ini yang bikin pasangan g tobat dari dulu karena mereka ga bs keep-up dengan perubahan g yang tiba2. Dari sini g udah nyadar bahwa hidup g lebih baik g jalanin sbg ‘one man show’ alias ga mau pusing dengan ikatan macem2. Ngapain? Ini jg yang selalu diprotes sama my dear mentor Pak Pur, “kamu itu ga bisa commit…(dengan nada ngomel)”. Why, should I have to?

Actually, I enjoy all my mood swings, even sometimes I were overwhelmed by it, but I love it. Mungkin one day g harus ketemu psikolog atau psikiater untuk konsultasi, barangkali g punya bawaan bipolar atau manic depressive :p.

Bagi g, commitment itu dijalanin (dan bukan sesuatu yang fixed), bisa tumbuh, stagnan, atau mati gitu aja. Bukan janji apa sumpah (makanya g ga abis pikir soal wedding vow—for the rest of your life???). Marriage life for me ga ada bedanya sama pertemanan atau pacaran. Sama2 masih harus saling adjusting, sama2 masih harus belajar ngimbangin satu sama lain. Gimana kl mendadak g ga pengen lagi commit? Kl commitment itu disamain dengan sumpah, absurd banget dong. Lah namanya orang gitu….People do change. Kl kita berubah tapi masih sejalan gpp kali, tp kl ngga? Kenapa juga dibebani sebagai janji? Sama aja kan seperti kita punya ‘best friend’. Kalo udah ga jadi baik, masa mau sakit hati?

I have to admit bahwa g bukan orang yang setia. Tapi untungnya, g ga bisa boong, terlebih boong sama diri g sendiri.  Terlebih boong untuk menyenangkan org lain (ps: happens a lot—g sih ga suka boong, tapi ada org yang lbh seneng kl g boong,  gimana dong?—boong untuk menyenangkan org lain—dilema tiap org kyknya)

Belakangan ini g sadar, g ga bisa hidup untuk orang lain terus. Banyak hal yang masih pengen g lakuin (inspirasi dari lagu Mraz). Dan itu ga ada hubungannya sama kewajiban g sebagai kakak, istri, teman, anak, ataupun lainnya. I just wanna be ME. For the past years, mungkin. Tapi hopefully ga lagi. Karena g harus mengakui, hidup untuk orang lain is never be fun. No fun at all!

But one thing I can be sure, my love to my dearest Che. I would do almost anything for her, termasuk sabar.  Love you, kiddo!

And all my friends!!! Kemarin2 baru g menyadari bahwa TERNYATA temen2 g itu sangat perhatian sama g, meski g orangnya sanget cuek dan sangat ga pedulian sama mereka. G sempet ngilang dari peredaran untuk waktu yang sangat lama. Baru kemarin2 aja lagi I actually ask them to hang out with me. And it was really a blast! Dan tentunya terharu. Thanks, you guys! Kalian masih mau berteman dan meluangkan waktu dengan orang yang super-duper lousy kyk g ini, hihihihi. Can’t wait for another soursally-ing with you guys again!

Dua temen curhat terbaik (sampai saat ini) umurnya 8 taun lbh tua dan 12 taun lebih muda—both cuma pernah ketemu sekali. Kangen kalian (Mikey & Rio), sumpah!

Dan sekarang g lagi senyum2 sendiri. Mensyukuri hidup g yang ‘terlalu’ berwarna-warni. Kata Pak Pur (lagi), ‘hidup kamu terlalu berwarna warni karena kamu suka cari masalah sendiri! makanya BERTOBAT!!!’ (thanks a lot, sir… but you love me anyway! hihihihi). Whatever it is, I love my life. I love all the sensations, no matter how funny and disgusting it is.

Dan g cuma berharap that my life would love me back too! :)

——-

*ditulis dalam rangka 3 hari kurang (banget) tidur karena marathon retouching photos, terlalu banyak mikirin hal ga penting, dan setelah sekian banyak minum kopi (dan satu gelas kopi yang muter sendiri….hiyyyy!!!!)
**Judul di atas ga maksud nyamain David Sedaris (Me Talk Pretty One Day). Sumpah!